Penafsiran Hukum

Setelah norma-norma berupa pasal-pasal kemudian termaktub didalam berbagai peraturan perundang-undangan, maka diperlukan penafsiran untuk membacanya.

Dalam praktek putusan pengadilan, berbagai penafsiran hukum sering digunakan oleh hakim didalam pertimbangan hukumnya.

Diantaranya adalah “apa adanya” (letterlijk) atau harfiah. Penafsiran ini menekankan arti dan makna yang jelas diatur didalam peraturan perundang-undangan. Misalnya yang disebut siang adalah dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Cara ini juga sering menggunakan penafsiran yang sudah jamak diketahui arti sebenarnya oleh masyarakat secara umum.

Selain itu juga dikenal penafsiran historis, penafsiran grammatical, sosiologis, filosofis, penafsiran terbalik (a contrario) dan sebagainya.

Penafsiran historis merujuk kepada sejarah lahirnya peraturan perundang-undangan. Dengan melakukan penafsiran historis, maka “semangat” lahirnya peraturan perundang-undangan menjadi dasar untuk melihat kasus-kasus (in croncrete).

Penafsiran hukum harus tunduk dengan kaidah-kaidah hukum. Penafsiran hukum tidak dibenarkan untuk kepentingan segelintir orang.

Penafsiran harus mampu menjawab persoalan a concrete berdasarkan norma yang mengaturnya.

Sebelum melakukan penafsiran, berbagai argumentasi harus berangkat dari logika umum. Sebagaimana diketahui, logika dibangun dari “premis mayor”, “premis minor” dan kesimpulan.

Premis mayor menunjuk kepada pasal-pasal hukum pidana yang berkaitan dengan tuduhan kepada pelaku. Sedangkan premis minor menunjuk kepada pelaku. Apakah pelaku sudah tepat dikenakan pasal yang dituduhkan.

Berdasarkan premis mayor kemudian dihubungkan dengan premis minor maka didapatkan kesimpulan. Apakah pelaku dapat dikenakan dengan pasal yang dituduhkan atau tidak. Sehingga hakim kemudian memutuskan. Apakah pelaku bersalah atau tidak.

Dengan demikian maka argumentasi hukum selalu bersandarkan kepada nilai, asas, norma. Sedangkan penafsiran digunakan untuk menajamkan argumentasi hukumnya. Sehingga logika argumentasi hukum dapat diterima oleh akal sehat (common sense).

Diluar daripada itu, maka dikenal dengan kesesatan. Yang justru membahayakan hukum itu sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s